Senin, 30 Mei 2011

Permasalahan Dalam Penelitian

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Tiada kata yang lebih indah selain ucapan kata syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Permasalahan Dalam Penelitian” ini sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan yang mana tugas ini merupakan tugas kelompok. Makalah ini berisi tentang bagaimana cara kita memahami bentuk-bantuk masalah yang terdapat dalam suatu penelitian.
Dalam pembuatan makalah ini penulis banyak menemui hambatan dalam penyalesaiannya. Namun, atas bantuan berbagai pihak makalah ini dapat terselesaikan. Oleh karena hal itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak tersebut. Khususnya kepada bapak Prof. Dr. H. Muhammad Djunaidi Ghony selaku dosen pembimbing mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan yang telah memberikan bimbingannya, dan teman-teman kelas B jurusan Pendidikan Agama Islam.
Akhirnya penulis berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak. Namun, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan agar malakah ini lebih baik di waktu yang akan datang.

Malang, Maret 2011

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mrndapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta teknologi.
Tujuan penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mangenai masalah-masalah pendidikan. Kemudian meningkatnya daya nalar untuk mancari jawaban permasalahan itu melalui penelitian. Serta yang dimaksud masalah itu sendiri adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya ada (das sollen) dengan kenyataan yang ada (das sein).
Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedangkan rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Contoh: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya hubungan antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam matapelajaran Matematika.

B. Rumusan Masalah
Ditinjau dari latar balakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian permasalahan dalam penelitian ?
2. Bagaimana menentukan rumusan masalah dalam penelitian ?
3. Bagaimana cara mengatasi masalah dalam penelitian ?

C. Tujuan Masalah
Ditinjau dari rumusan masalah di atas, maka dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut:
1. Mengatahui pengertian permasalahan dalam penelitian.
2. Mengatahui menentukan rumusan masalah dalam penelitian.
3. Mengatahui cara mengatasi masalah dalam penelitian.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Fungsi Masalah dalam Penelitian
Masalah atau disebut juga problem adalah suatu pertanyaan yang mengawali suatu penelitian. Proses mencari jawaban dari permasalahan hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan. Sedang masalah atau permasalahan dalam penelitian tak terlepas erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Namun demikian perlu adanya pemecahan terhadap masalah atau permasalahan tersebut.
Untuk menemukan jawaban suatu permasalahan, peneliti dapat mempergunakan berbagai cara yang sistematis. Variasi-variasi cara penelitan terjadi tidak hanya dalam penelitan bidang yang berbeda-beda, namun bisa juga dalam bidang yang sama, misalnya dalam bidang pendidikan. Bahkan sering sering pula terjadi dalam permasalahan yang sama pula (Hadi,1980).
Seperti yang terungkap di atas, permasalahan meruoakan suatu pertanyaan yang mengawali suatu kegiatan penelitian, sehingga seseorang ilmuwan melakukan serangkaian kegiatan guna memperoleh jawaban dari permasalahan yang sedang dihadapi, dengan melalui suatu aturan-aturan tertentu yang sistematis, obyektif, dan kritis. Proses mencari jawaban dari persoalan itu merupakan penelitian, yang selanjutnya harus diperjelas sumber jawabannya dari mana harus diperoleh. Dengan demikian persoalan itu muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu berlangsung.
Dalam mengidentifikasi permasalahan yang benar-benar layak untuk dijadikan penelitian, sebaiknya permasalahan tersebut diklasifikasi terlebih dahulu menjadi permasalahn yang sifatnya merupakan common sense (akal sehat), dan permasalahan yang betul-betul masalah. Masalah yang sifatnya common sense biasanya dapat dirasakan hanya terbatas pada perasaan seseorang atau diawali oleh hemat saya, sulit diukur, dan reliabilitas kemunculannya dalam suatu konteks yang rendah.

A. Karakteristik Permasalahan Penelitan
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri. Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena, dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
Permasalahan yang ada harus diklasifikasi, selanjutnya dapat diangkat sebagai masalah yang dapat diteliti, biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Permasalahan tersebut biasanya dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama.
2. Permasalahan tersebut sering muncul dan secara signifikan ditemui oleh orang-orang yang terlibat.
3. Permasalahan tersebut dapat diukur dengan alat ukur penelitian, seperti skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.
4. Permasalahan tersebut dapat diteliti, lantaran dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis.
5. Permasalahan tersebut memiliki kontribusi signifikan, lantaran memiliki nilai guna dan manfaat baik pada tataran teoritis yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuanmaupun pada tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari.
6. Permasalahan tersebut didukung oleh data empiris yakni dapat diukur baik secara kuantitatif maupun secara empiris yang memberikan hubungan erat antara fakta konstruk sesuatu fenomena, di samping mendudukkan pada suatu variabel yang harus didasarkan hukum positif, empiris dan terukur. Bila tidak demikian maka akan jatuh pada kategori common sense yang sulit untuk ditindak lanjuti dalam proses pengumpulan data.
7. Sesuai dengan kemampuan dan keinginan peneliti, hal ini penting karena memberikan motivasi dan kepercayaan diri pada peneliti bahwa apa yang hendak diteliti di lapangan akan berhasil, karena data yang ada di lapangan kemudian peneliti memiliki kemampuan untuk dikumpulkan sehingga dapat dianalisis sampai hasil penelitian dapat diperoleh (Sukardi, 2004).

2.2 Sumber Masalah dalam Penelitian
Masalah atau permasalahan yang ada di lingkungan kita sehari-hari cukup banyak, untuk itu diharapkan bagi peneliti mampu mengidentifikasi, memilih, merumuskan, dan kemudian menentukan tipologi penelitiannya secara tepat (Borg, 1985). Beberapa sumber masalah atau permasalahan dapat diperoleh dari:
1. Literatur, yang meliputi: buku, buku teks, monograpy, laporan statistik, dan yang berupa non buku seperti: jurnal, skripsi, tesis, disertasi, dsb.
2. Berbagai pertemuan ilmiah seperti: seminar, diskusi, lokakarya, sarasehan, dsb.
3. Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitudinal
4. Perasaan intuitif (Balian, 1983;Surabaya, 1983)
Di samping sumber masalah di atas, masih ada beberapa macam sumber yang dapat membantu peneliti dalam memperoleh permasalahan yang layak dijadikan bahan untuk diteliti, di antaranya:

a. Pengalaman seseorang atau kelompok, di mana pengalaman adalah guru yang paling baik dalam karier maupun profesi seseorang seperti guru, pengacara, dokter, dimana mereka diberi gelar dan tanda jasa untuk menghormati pengalaman diidangnya sebagai senior atau profesor. Mereka telah lama menekuni bidangnya sehingga dapat digunakan sebagai sumber untuk membantu mencari permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
b. Lapangan tempat peneliti bekerja merupakan merupakan tempat dimana seseorang maupun peneliti bekerja merupakan salah satu sumber permasalahan yang baik dan layak uantuk digali sebagai sumbar masalah yang akan diteliti.
c. Laporan hasil penelitian, di samping ada hasil temuan yang baru juga ada kemungkinan peneliti yang di rekomendasikan karena berkaitan dengan hasil penelitian yang telah ada, sehingga dari sumber tersebut diperoleh suatu gambaran permasalahan yang baik untuk diteliti.
Penemuan masalah dan sumber-sumber masalah juga dapat dilihat melalui beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
a. Masalah Formal
1. Temuan dan rekomendasi penelitian
Masalah dapat ditelusuri dari hasil penelitian orang lain. Sebuah penelitian memiliki bagian kesimpulan dan saran, dari bagian inilah seorang peneliti menemukan masalah enemukan masalah enemukan masalah dengan menganilisis adanya kemungkinan untuk melanjutkan penelitian tersebut sebagai upaya untuk mengkaji hal-hal yang belum terungkap, mengulang penelitian tersebut untuk memperkaya teori, dan hal-hal yang lain yang mungkin ditemukan dari analisis hasil penelitian orang lain.
2. Analogi
Analogi merupakan penemuan masalah dengan cara mengadaptasi masalah dari suatu pengetahuan dan menerapkannya ke bidang pengetahuan seorang peneliti baru, dengan adanya persyaratan bahwa kedua bidang tersebut harus memiliki kesesuaian dalam hal-hal yang penting.
3. Renovasi
Renovasi juga merupakan sebuah metode menemukan masalah penelitian yakni dengan cara mengganti suatu unsur teori, untuk meningkatkan kebenaran suatu teori.
b. Masalah Nonformal
1. Konjektur: permasalahan yang ditemukan denga naluriah (fakta apresiasi individu terhadap lingkungannya), dan tanpa dasar-dasar yang jelas. Bila kemudian dasar-dasar atau latar belakang permasalah dapat dijelaskan, maka penelitian dapat diteruskan secara alamiah.
2. Fenomenologi: Menemukan masalah-masalah baru yang berhubungan dengan fenomena-fenomena yangdapat diamati.
c. Pengalaman dan Literatur
1. Pengalaman: merupakan sumber pengenalan masalah yang peling berguna bagi peneliti pemula dalam memulai penelitian, yakni pengalaman mereka sendiri sebagai praktisi pendidikan. Banyak keputusan yang harus diambil setiap waktu. Pengalaman seseorang merupakan sumber yang baik sebagai permasalahan penelitian.
2. Literatur: sebagai cara penemuan masalah terbagi dua, yakni literatur yang dipublikasikan dan literatur yang tidak dipublikasikan
d. Paper, personal, place
(1) paper : mempelajari dokumen, buku, majalah, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya.
(2) Personal : melakukan wawancara atau diskusi dengan para ahli atau orang-orang yang ada pada lokasi penelitian.
(3) Place : mengamati daerah/ lokasi penelitian yang akan diteliti (Arikunto, 2002).
2.3 Menemukan Solusi masalah
Tujuan dari penelitian adalah untuk menemukan solusi, jawaban terhadap suatu masalah. Masalah penelitian dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Stonner mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan atau kesenjangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi (Sugiyono (2005:32).
a. Terdapat penyimbangan atau kesnejangan antara pengalaman dan kenyataan. Maksudnya adalah terjadinya pertentangan antara informasi yang mengakibatkan kesenjangan pengetahuan.
b. Terdapat penyimpangan antara rencana dengan kenyataan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara apa yang seharusnya dengan apa kenyataannya, antara harapan dan kenyataan. Dalam kebijakan pendidikan seringkali kita temukan suatau penyimpangan, antara rencana yang telah ditetapkan sebagai kebijakan untuk dijalankan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan tujuan dari rencana tersebut. Seperti, kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru dapat meningkatkan mutu pendidikan. Kenyataan sekarang pendidikan Negara kita masih tetap jalan di tempat.
c. Terdapat kontradeksi antara teori dengan praktek. Maksudnya keadaan empiric yang relevan, tidak sesuai teori dengan realitas, maka konsekuensi logikanya tidak dapa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
d. Adanya pengaduan atau informasi yang mengakibatkan kesenjangan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita. Maksud adalah kesenjangan antara teori dengan bukti-bukti empiris yang teramati.
Dalam suatu organisasi yang tadinya tidak ada masalah dalam melaksanakan proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, namun setelah ada sekelompok pihak yang merasa dirugikan, atau terjadi kesalahan. Maka timbullah masalah dalam organisasi itu.
Problem itu akan dapat menjadi besar dan muncul ke permukaan manakala terjadinya kritikan. Polemik. Opini yang dimuatkan di dalam Koran, majalah dan media lainnyatentang proses kerja lembaga tersebut menjadi kelihatan.
Contoh : seorang Inu kencana dosen IPDN memberikan informasi tentang system pendidikan yang berlaku di lembaga pendidikan IPDN yang bermuatan kekerasan sehingga banyak menelan korban. Dengan demikian masyarakat tidak simpati dengan lembaga pendidikan ini dan bahkan mengecam system yang dilakukan di IPDN tersebut, sehingga kredibilitas lembaga ini menjadi menurun dan menimbulkan masalah. Dengan demikian pengaduan seprti ini dapat digali kebenarannya dengan cara menganalisis isi pengaduan tersebut.

a. Menemukan Masalah dalam Penelitian
Dalam memilih masalah atau permasalahan penelitian akan lebih mudah jika peneliti memahami dan mengikuti secara oeganisatoris langkah-langkah penting di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Peneliti sebaiknya mengidentifikasi cakupan luas dari permasalahan tersebut, kemudian dispesifikasikan untuk mencari apakah permasalahan tersebut sering kali muncul dan dapat dinilai secara kasar kemanfaatannya baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan meupun terhadap stakeholder hasil penelitian.
2. Peneliti mempersempit permasalahan sehingga terjadi permasalahan yang dapat diteliti, sesuai dengan kemampuan peneliti untuk melaksanakannya, disamping menghindari adanya kesulitan nantinya dalam mengukur data.
3. Masalah dalam penelitian yang telah diidentifikasi dan dibatasi agar memperoleh masalah yang layak untuk diteliti masih harus dirumuskan agar dapat memberikan arah bagi peneliti secara jelas.
4. Masalah yang telah dirumuskan secara tepat dan benar harus mencakup dan menunjukkan semua variabel maupun hubungan variabel yang satu dengan yang lainnya yang hendak diteliti.
Selanjutnya mengenai bentuk perumusan masalah yang dirumuskan ada bebrerapa jenis/bentuk, di antaranya:
a. Perumusan masalah menunjukkan rumusan yang jelas, tidak menduakan arti.
b. Pernyataan sebaiknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
c. Perumusan masalah penelitian dapat bervariasi, tergantung pada kesenangan peneliti.
d. Perlu adanya kehati-hatian, jeli, dalam mengevaluasi rumusan masalah penelitian (Sukardi, 2004).
e. Permasalahan haruslah secara tepat dinyatakan agar memungkinkan peneliti untuk memilih fakta yang diperlukan dalam penyelesaian masalah penelitian.
f. Permasalahan itu mesti dapat dijawab dengan jelas berapapun jumlah jawaban yang diberikan harus memenuhi persyaratan.
g. Setiap jawaban dari permasalahan penelitian harus dapat diuji dan dibuktikan oleh orang lain (Suriasumantri, 1978).
Pertanyaan yang mendasar yang diajukan oleh kebanyakan yang ingin meneliti masalah penelitian untuk mencari bawaban, dimulai dari “bagaimana saya menemukan suatu persoalan penelitian ?” meskipun tidak ada teknik yang khusus, yang pasti untuk menemukan suatu persoalan , ada beberapa sumber yang boleh digunakan untuk memulai mengenal masalah.
Sumber-sumber tersebut adalah pengalaman, berfikir deduksi dari teori-teori serta literatur yang relevan dengan penelitin. Seterusnya, berfikir induksi dari fenomena-fenomena yang berlaku secara impiris. Setiap sumber-sumber tersebut mempunyai kelabihan dan kekurangan. Gabungan sumber-sumber secara simultan dapat digunakan untuk memulai mengenal suatu masalah pendidikan.
Untuk menentukan permasalahan permasalahan yang baik hendaknya memiliki kerakteristik sebagai berikut:

 Peneliti memiliki keahlian dalam bidang yang diteliti.
 Tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang diperlukan untuk mencari solusi penyelesaian masalah yang diteliti.
 Peneliti memiliki sumber daya yang diperlukan dalam penelitian yang dijalankan.
 Peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala lain dalam pelaksanaan penelitian yang dilakukan.




b. Mengembangkan Gagasan dalam penelitian
Dengan adanya kejelasan dari perumusan permasalahan penelitian sehingga dapat diteliti dan dibuktikan, timbul suatu pertanyaan yang sangat mendasar yakni dari mana peneliti memulai pekerjaan penelitiannya? Pertanyaan tersebut selalu muncul dalam benak peneliti terutama sekali peneliti pemula, atau pemikiran tersebut muncul bagi peneliti yang tengah mencoba memulai karier penelitiannya (Donald, 1985). Lazimnya dalam dunia penelitian dikenal adanya tiga cara dalam mengawali penelitian, yaitu:
1. Replikasi
Merupakan salah satu cara untuk mendapatkan gagasan awal adalah dengan pendekatan replikasi terutama dalam merancang penelitian dengan lebih cepat dan tepat, guna mengatasi kesulitan yang banyak dihadapi peneliti yang belum banyak pengalaman.
Adapun cara menemukan model penelitian kajian ulang atau replikasi ini adalah:
a. Pertama-tama pilihlah dari literatur yang ada, ambil kajian tertentu yang patut dikaji ulang.
b. Susunlah desain penelitiannya secara terinci.
c. Bandingkan analisis anda sebagai peneliti pemula dengan hasil analisis terdahulu.
Catatan: tidak semua pembimbing menyukai model penelitian semacam ini, pembimbing lebih menyukai penelitian yang bersifat original.
2. Rekomendasi dari pembimbing
Untuk mendapatkan gagasan awal adalah dari pembimbing sendiri. Hal ini merupakan suatu sumber gagasan yang umum dilakukan oleh para mahasiswa pada umumnya (Balian,1983). Sesuatu yang perlu diingat bahwa peneliti seharusnya memahami serta menyukai topik yang diberikan oleh pembimbing. Dengan modal tersebut, kenyataanya tinggal sedikit meteri yang harus diperiksa oleh team penguji. Namun demikian harus diingat bahwa bagian metodologi termasuk mangenai analisisnya menjadi tanggung jawab peneliti secara keseluruhan.
3. Gagasan Original
Model mencari gagasan secara original sering dijumpai dilakukan oleh peneliti yang profesional, ataupun mereka yang tengah belajar penelitian (Best,J,.1983). Adapun cara yang harus diperhatikan oleh mereka sebagai berikut:
a. Pertama-tama peneliti meninjau literatur dengan suatu gagasan replikasi.
b. Berawal dari hal tersebut peneliti mengkasi apakah permasalahan penelitian yang akan diteliti masih cukup relevan untuk diteliti, dan adakah pemecahan masalahnya telah mengenai hal-hal yang mendasar?
c. Bila memungkinkan pihak peneliti mencari permasalahan yang akan diteliti betul-betul releven, dan menemukan metode yang setepat mungkin (Kidder, 1986).











DAFTAR PUSTAKA

Ghoni, Junaedi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Malang: Uin Press
Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press
Margono. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: P. T. Rineka Crita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar